Refleksi Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas dari kawasan Pranajiwo, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (5/3/2020). Aktivitas vulkanik Gunung Semeru meningkat sejak sepekan terakhir dengan mengeluarkan awan panas sejauh tiga kilometer dan intensitas delapan kali guguran lava pijar dengan status level II atau waspada. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj.

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi pada Sabtu (4/12) sekitar pukul 15.00 WIB. Peristiwa ini menyebabkan korban berjatuhan.
Diketahui, Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran (APG). Warga sekitar Gunung Semeru pun berlarian panik menghindari gumpalan awan, dan pemukiman yang terdampak mengalami gelap gulita karena listrik mati.

1. Puncak tertinggi Pulau Jawa
Gunung Semeru atau Gunung Meru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru yang tingginya 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

2. Gas beracun
Kawah di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Di Puncak Mahameru, pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun, awan panas, dan aliran lahar.

Gas beracun dan awan panas ini dikenal dengan sebutan wedhus gembel yang dalam bahasa Jawa berarti kambing gimbal yakni kambing yang berbulu seperti rambut gimbal karena penampakannya yang mirip.

Terjadi letusan wedhus gembel setiap 15-30 menit pada puncak Gunung Semeru yang masih aktif. Pada siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke sana.

3. Letusan pertama yang tercatat tahun 1800-an
Catatan letusan pertama yang terekam diperkirakan pada 8 November 1818. Pada rentang 1829-1878 juga terjadi beberapa kali letusan hingga tahun 1913, tetapi tidak banyak informasi yang terdokumentasikan.

Letusan pada abad ke-19 Masehi itu terjadi pada tahun 1829, 1830, 1832, 1836, 1838, 1842, 1844, 1845, 1848, 1851, 1856, 1857, 1860, 1864, 1867, 1872, 1877, dan 1878. Bahkan, gunung ini kembali meletus tahun 1884 hingga 1899.

4. Sakral bagi umat Hindu
Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru. Gunung ini adalah rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara Bumi (manusia) dan Khayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan makhluk halus.

Menurut orang Bali, Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Upacara tersebut dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru.

5. Surganya flora dan fauna
Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gunung Tengger antara lain: Gunung Bromo (2.392 m), Gunung Batok (2.470 m), Gunung Kursi (2.581 m), Gunung Watangan (2.662 m), dan Gunung Widodaren (2.650m). Selain itu, terdapat empat buah danau (ranu) cantik yaitu Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru setidaknya menyimpan 1.025 jenis flora dan 38 jenis fauna yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang terdiri dari 24 jenis aves, 11 jenis mamalia, 1 jenis reptil, dan 2 jenis insekta.

Menkominfo Ungkap Kondisi Layanan Telekomunikasi Pasca Gunung Semeru Erupsi
Flora yang berada di wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominiasi oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominasi oleh kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan edelwiss putih. Edelwis juga banyak ditemukan di lereng-lereng menuju puncak Semeru. Terdapat pula beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Gunung Semeru bagian selatan.

Sedangkan fauna yang menghuni Gunung Semeru antara lain macan kumbang, budeng, luwak, kijang, kancil, dan lain-lain. Selain itu, di Ranu Kumbolo terdapat belibis yang masih hidup liar.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *